Assalamualaikum wr.wb....
Di bulan Ramadhan kali ini HIMA-TG Unsyiah kembali mengadakan acara GERAM (Gema Ramadhan) edisi ke-2 pada (12/6). Pada GERAM kali ini mengangkat tema “Manisnya Iman di Bulan Ramadhan”. Tujuan dari GERAM ini menjadi wadah untuk dapat mempererat tali silatuhrami, juga menjalin keakraban antar letting. Pada acara ini dihadiri oleh dosen, alumni juga mahasiswa mahasiswi dari teknik geofisika. Berbagai rangkain acara pun dilakukan pada kegiatan ini mulai dari tausiyah, buka puasa bersama, dan sholat magrib berjamaah. Juga mengundang ustadz Dede C. Habibillah yang memberikan tausiyah mengenai kisah para Sahabat Nabi, yaitu kisah Uwais Al Qarni, Abdullah bin Hudzafah dan Abu Bakar Al Miski


Kisah Uwais Al Qarni dan Baktinya pada Orang Tua

Kisah Uwais bin ‘Amir Al Qarni ini patut diambil faedah dan pelajaran. Terutama ia punya amalan mulia bakti pada orang tua sehingga banyak orang yang meminta doa kebaikan melalui perantaranya. Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekadar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai pengembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak memengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Faedah dari kisah Uwais Al Qarni :
·Kita dapat ambil pelajaran –kata Imam Nawawi- bahwa Uwais adalah orang yang menyembunyikan keadaan dirinya. Rahasia yang ia miliki cukup dirinya dan Allah yang mengetahuinya. Tidak ada sesuatu yang nampak pada orang-orang tentang dia. Itulah yang biasa ditunjukkan orang-orang bijak dan wali Allah yang mulia.
  • Keistimewaan atau manaqib dari Uwais nampak dari perintah
  • Boleh orang yang lebih mulia kedudukannya meminta doa pada orang yang kedudukannya lebih rendah darinya. Di sini, Umar adalah seorang sahabat tentu lebih mulia, diperintahkan untuk meminta do’a pada Uwais –seorang tabi’in- yang kedudukannya lebih rendah.
  • Menjadi orang yang tidak terkenal atau tidak ternama itu lebih utama.
  • Berbakti pada orang tua terutama ibu, berbakti pada orang tua termasuk bentuk qurobat (ibadah) yang utama.
  • Keadaan Uwais yang lebih senang tidak tenar menunjukkan akan keutamaan hidup terasing dari orang-orang.


Abdullah Bin Hudzafah As-Sahmy “Penebus Tawanan Muslim

Namanya Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy. Dia adalah seorang sahabat yang beruntung lantaran pernah menemui dua raja besar di zamannya; Kisra, Raja Persia dan Kaisar Agung. Suatu ketika Rasulullah mengutus Abdullah bin Hudzafah untuk mengirimkan surat beliau yang berisi ajakan masuk Islam kepada Kisra Abrawis, Raja Persia. Ia pun mempersiapkan segala keperluannya keluarganya. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Abdullah bin Hudzafah tiba di ibukota Persia. Setelah mendapat sedikit kesulitan, ia dipersilakan menghadap Kisra. Abdullah menghadap sang Raja dengan pakaian sederhana, sebagaimana kesederhanaan orang-orang Islam. Namun kepalanya tetap tegak. Tatkala Kisra melihat Abdullah menghadap, dia memberi isyarat kepada pengawalnya supaya menerima surat yang. Saya tidak mau menyalahi perintah "Biarkan dia mendekat kepadaku!" bentak Kisra dengan hati mendongkol. Ia menerima surat yang diberikan Abdullah dan memerintahkan sekretarisnya untuk membaca isinya: "Dari Muhammad, kepada Kisra, Raja Persia. Berbahagialah siapa saja yang mengikuti petunjuk..."
Baru sampai di situ sekretaris membaca surat, api kemarahan menyala di dada Kisra. Mukanya berubah merah. "Kurang ajar, berani-beraninya dia menulis namanya lebih dahulu dari namaku. Padahal dia adalah budakku," umpat Kisra geram. Surat yang sedang dibaca sekretarisnya itu ia sambar dan robek-robek. Lalu ia memerintahkan pengawalnya untuk mengusir Abdullah dari ruang pertemuan.Setibanya di hadapan Rasulullah, Abdullah bin Hudzafah segera melaporkan segala kejadian yang dilihat dan dialaminya, diantaranya perbuatan Kisra yang merobek surat beliau. Mendengar laporan tersebut, Rasulullah bersabda, "Semoga Allah merobek-robek kerajaannya pula!". Pertemuan Abdullah bin Hudzafah dengan Kaisar Agung terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Al-Khathab. Pada tahun 19 Hijriyah, Khalifah Umar mengirim angkatan perangnya untuk menyerang Romawi. Dalam pasukan itu terdapat seorang perwira senior; Abdullah bin Hudzafah. Kaisar Romawi telah mengetahui keunggulan dan sifat-sifat tentara Muslim. Sumber kekuatan mereka adalah iman yang membaja dan keyakinan yang dalam, serta keberanian mereka menghadapi maut. Jihad di Allah menjadi tekad dan cita-cita hidup mereka.
Kaisar Romawi memerintahkan kepada para perwiranya, "Jika kalian berhasil menawan tentara Muslim, jangan kalian bunuh, tapi bawa ke hadapanku!"
Ditakdirkan Allah, Abdullah bin Hudzafah tertawan. Ia dibawa menghadap sang Kaisar. Setelah memerhatikan Abdullah bin Hudzafah agak lama, Kaisar berkata, "Aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu."
"Apa yang hendak anda tawarkan?" tanya Abdullah.
"Maukah kau masuk agama Nasrani? Jika mau, aku akan membebaskanmu dan memberikan hadiah yang besar," kata Kaisar.
Abdullah menjawab lantang, "Aku lebih suka mati seribu kali daripada menerima tawaran anda."
Kaisar tersenyum. "Aku lihat kau adalah seorang perwira yang pintar. Jika kau mau menerima tawaranku, aku akan mengangkatmu menjadi pembesar kerajaan."
Abdullah membalas tersenyum dan berkata, "Demi Allah, seandainya anda berikan padaku seluruh kerajaan anda, ditambah semua kerajaan yang ada di tanah Arab ini, agar aku keluar dari agama Muhammad walau sekejap mata, aku tetap tidak akan menerimanya!"
"Kalau begitu, kau akan kubunuh!" bentak Kaisar marah.

"Silakan, lakukanlah apa saja yang anda suka!" jawab Abdullah mantap.

Tubuh Abdullah bin Hudzafah akhirnya diikat di kayu salib. Kemudian Kaisar memerintahkan tukang panah untuk memanah lengan Abdullah. Setelah itu Kaisar bertanya lagi,
"Bagaimana? Maukah kau masuk agama Nasrani?"
"Tidak!" jawab Abdullah.
"Panah kakinya!" perintah Kaisar. Maka anak panah kembali meluncur mengenai kaki Abdullah.
"Maukah kau pindah agama?" bujuk Kaisar.
Abdullah tetap menolak. Karena tidak berhasil, Kaisar menyuruh menghentikan siksaan dengan panah. Abdullah diturunkan dari tiang salib. Kaisar kemudian meminta sebuah kuali besar, lalu dituangkan minyak ke dalamnya. Setelah minyak menggelegak, Kaisar meminta dua orang tawanan Muslim. Seorang diantaranya dilemparkan ke dalam kuali. Sebentar kemudian, daging orang itu hancur hingga tulang-belulangnya keluar. Kaisar kembali membujuk Abdullah agar mau pindah agama, namun ia tetap menolak. Akhirnya Kaisar memerintahkan pengawal untuk melempar Abdullah ke dalam kuali.  Ketika pengawal menggiring Abdullah mendekati kuali, ia menangis. Kaisar mengira Abdullah menangis karena takut. Ternyata dugaannya salah. Abdullah tetap tak mau pindah agama.
"Kurang ajar, Lalu apa yang menyebabkan kamu menangis?" bentak Kaisar.
"Aku menangis karena keinginanku selama ini tidak terkabul. Aku ingin mati di medan tempur. Ternyata kini aku akan mati konyol dalam kuali," jawab Abdullah.
"Kalau begitu, maukah kau mencium kepalaku?" tanya Kaisar tiba-tiba. "Kalau kau mau, aku akan membebaskanmu dan seluruh tawanan."
Abdullah berpikir sejenak. "Aku harus mencium kepala musuh Allah, tapi aku dan kawan-kawanku bebas. Ah, tidak ada ruginya."
Ia pun menghampiri Kaisar dan mencium kepalanya. Kaisar kemudian  memerintahkan para pengawal membebaskan semua tawanan Muslim.
Setibanya di hadapan Khalifah Umar, Abdullah bin Hudzafah melaporkan semua peristiwa yang dialaminya. Khalifah Umar sangat gembira mendengar laporan Abdullah tersebut.  Ketika memeriksa pasukan Muslim yang tertawan dan bebas bersama-sama Abdullah, Umar berkata,
"Sepantasnyalah setiap Muslim mencium kepala Abdullah bin Hudzafah. Nah, aku yang memulai!" Khalifah Umar bin Al-Khathab berdiri lalu mencium kepala Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy.



Abu Bakar Al-Miski “Pemuda yang harumnya seperti Kasturi

Pada zaman dahulu, ada seorang pemuda yang sholeh dan tampan. Ketampanan dan kesholehannya membuat dirinya menjadi dikenal oleh para masyarakat. Walaupun dia dikenal oleh masyarakat, dia tidak sombong dan angkuh tapi malah membuat dia bersyukur kepada Allah dan lebih rajin lagi beribadah kepada-Nya. Dia bernama Abu Bakar Al-Miski. Nah, Al-Miski ini merupakan sebutan dari pemuda itu. Al- Miski yang berarti yang harumnya seperti kasturi. Bagaimana dia mendapatkan sebutan atau gelar tersebut. Suatu hari dia sedang berdagang kain, ada seorang wanita yang terpesona dengan ketampanan Abu Bakar Al-Miski ini, dan akhirnya sang perempuan ini mempersilahkan Abu Bakar Al-Miski untuk datang ke rumahnya dengan maksud ingin membeli kain dari Abu Bakar. Padahal si Perempuan itu memiliki niatan buruk kepada Abu Bakar Al-Miski.

Abu Bakar pun mengiyakan ajakan si perempuan tersebut karena memang dia tidak tau maksud tersembunyi dari perempuan itu. Ketika sampai di rumah perempuan itu, tiba-tiba perempuan tersebut menggoda dan merayu Abu Bakar agar mau melakukan hubungan badan dengan dia. Abu Bakar pun ketakutan dan bingung bagaimana dia harus melakukan apa. Badannya gemetaran, tapi dia ingat kepada Allah dan berdoa agar dia diselamatkan. Abu Bakar pun meminta ijin kepada perempuan tersebut untuk pergi ke kamar mandi dulu. Agar tidak dikira berbohong atau ingin melarikan diri akhirnya Abu Bakar meminta perempuan tersebut untuk memberikan dua pelayan untuk mengantarkan dan menemani dia ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Abu Bakar kembali berdoa kepada Allah. Dan tiba-tiba dia mengambil kotoran yang ada di dalam kamar mandi dan melumurkan ke seluruh tubuhnya. Setelah itu dia pun keluar dan menemui si Perempuan tersebut lagi. Saat melihat tubuh Abu Bakar berlumuran kotoran dan bau perempuan tersebut marah dan mengusirnya dari rumah. Dengan bergegas Abu Bakar pun keluar. Sesampainya di rumah Abu Bakar membersihkan tubuhnya dari kotoran dan apa yang terjadi? Tiba-tiba dari tubuh Abu Bakar muncul bau yang sangat harum seperti wangi bunga kasturi. Inilah karunia Allah, Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam kesulitan dan yang selalu tawakal kepada-Nya. Setelah itu Abu Bakar pun mendapatkan gelar Al – Miski yang berarti yang harumnya seperti Kasturi.

Nah itu dia kisah-kisah dari sahabat nabi, semoga kita bisa memetik kebaikan dari kisah sahabat nabi tersebut dan semoga dibulan suci Ramadhan ini diberikan keberkahan buat kita semua dan umur panjang untuk bisa berjumpa lagi dengan Ramadhan selanjutnya.
Wassalam.... 



Next
This is the most recent post.
Older Post

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar