Istilah kata magnet berasal dari bahasa Yunani “magnitis lithos” yang berarti batu Magnesian. Kata Magnesian sendiri mengacu kepada kata Magnesia, yang merupakan suatu kota di kawasan Turki (ada yang berpendapat Macedonia). Di kota inilah sejak dahulunya banyak ditemukan batu magnet. Pengertian Magnet merupakan benda yang dapat menarik benda lain yang berada di sekitarnya.

Cerita mengenai penemuan magnet sangat beragam dan tidak terusut dengan jelas. Menurut satu kisah, magnet telah dikenal sekitar tahun 4000 SM. Saat itu orang Yunani dan Romawi kuno mendapati suatu batu hitam yang memiliki sifat khusus. Batu hitam ini memiliki kemampuan yang membuat logam-logam tertentu dapat menempel di batu tersebut. Kemudian batu ini dinamakan dengan magnet, sesuai dengan nama tempat dimana batu ini ditemukan, Magnesia. Kisah lainnya, magnet ditemukan oleh seorang penggembala domba bernama Magnes. Saat itu Magnes yang sedang menggembala mendapati ujung besi tongkatnya tertarik ke tanah. Kemudian dia menggali tanah tersebut dan menemukan tongkat tersebut ditarik oleh batu khusus yang banyak terdapat di daerah tersebut. 

Selanjutnya ada Thales, tokoh filsafat Yunani yang hidup pada abad 6 SM. Ia selalu mengaitkan tentang kejadian di Bumi dengan ilmu pengetahuan, termasuk dengan kemagnetan benda dan bijih besi. Karena hal inilah kemudian Thales dikaitkan dengan penemuan magnet. 

Setelah penemuan magnet, Pemanfaatan aplikasi magnet mulai dikembangkan. Kompas adalah salah satunya. Di China pada abad 4 SM, prinsip kompas pertama kali ditemukan. Awalnya penambang China menemukan batuan alam yang memiliki sifat magnetik alami yang dapat menunjukkan arah Utara dan Selatan secara tepat. Batu ini akan memutar ketika ditempatkan pada air tertutup dan selalu menunjukkan arah Selatan. Pemanfaatan kompas pada masa ini digunakan untuk fungsi bangunan, jendela, ruang dan mebel menurut prinsip feng shui dan peruntungan. Lalu pada tahun 1086 atau pada masa dinasti Song, Shen Kuo berhasil membuat kompas yang berbentuk jarum penunjuk ke empat arah mata angin.

Perilaku jarum kompas yang selalu mengarah ke kutub utara mengundang para ilmuan untuk meneliti hal ini. Mereka berpendapat ada faktor utama yang seolah-olah menarik jarum kompas sehingga selalu mengarah ke Utara. Mulanya, Christopher Columbus mengira bahwa jarum di kompas ditarik oleh bintang kutub. Lalu ada juga yang berpendapat bahwa pegunungan di Kutub Utaralah yang menimbulkan medan magnet. Bahkan saat itu ada juga yang percaya bahwa bawang putih dapat mempengaruhi kerja perangkat kompas. Karena penasaran dengan fenomena ini, William Gilbert, seorang ilmuan dan Dokter dari Inggris melakukan eksperimen mengenai magnet selama 17 tahun.  

Bersama dengan para kapten kapal dan navigator, dia memulai eksperimennya. Dia membuat magnet dari logam biasa yang digosokkan dengan magnet. Dari serangkaian penelitiannya ini, dia mengamati bahwa magnet menghasilkan kekuatan secara gerak melingkar. Dia mulai mengaitkan fenomena magnet ini dengan rotasi Bumi. Dari sinilah muncul anggapan bahwa sumber magnet utama adalah dari dalam Bumi sendiri. Penelitian tentang fenomena magnet ini, diarsipkan William Gilbert didalam buku karangannya, De Magnete, tahun 1600.

Penjelasan selanjutnya berasal dari prinsip kerja antara dua kutub magnet. Bahwasanya, kutub yang sejenis akan mengalami gaya tolak-menolak, sementara kutub yang berlainan jenis akan tarik-menarik. Kompas, yang juga merupakan magnet, juga terdiri dari kutub Utara dan Selatan. Kutub Utara di kompas selalu mengarah ke kutub Utara Bumi. Artinya, kutub Utara Bumi menarik kutub Utara magnet kompas. Fenomena ini tidak melanggar asas fisika. Karena yang terjadi sebenarnya adalah, Bumi yang merupakan sebagai  sumber utama magnet, dianggap sebagai batang magnet raksasa yang juga memiliki kutub Utara dan Selatan. Kutub Selatan magnet Bumi terletak di kutub Utara Geografis Bumi dan kutub Utara magnet Bumi terletak di kutub Selatan Geografis Bumi. Jadi yang sebenarnya menarik kutub utara magnet kompas adalah kutub Selatan Magnet Bumi.

Posisi kutub magnet Bumi dan kutub geografis Bumi tidaklah berimpit. Kutub Selatan magnet Bumi ternyata terletak di Kanada bagian Utara, atau sekitar 1500 Km dari kutub Utara geografis Bumi. Sementara kutub Utara magnet Bumi terletak di dekat lingkar Antartika. Perbedaan letak ini menimbulkan sudut yang disebut deklinasi. Nilai deklinasi mendekati nol didaerah khatulistiwa. Semakin mendekati kutub, nilai deklinasi juga akan bertambah. Jarum kompas juga membentuk sudut dengan bidang datar karena pengaruh letak kutub magnet bumi, yang disebut sebagai sudut inklinasi. 

Pemanfaatan metode magnet kemudian dikembangkan untuk eksplorasi mineral ferromagnetik, bijih besi salah satunya. Tercatat tahun 1640, metode magnet pertama kali digunakan untuk mencari bijih besi di Swedia. Lalu pada tahun 1830 – 1842, Karl Federick Gauss melakukan pengamatan medan magnet Bumi. Ia menguatkan anggapan William Gilbert yang menyatakan bahwa sumber medan magnet Bumi berasal dari dalam Bumi.

Tahun 1970, ditemukan magnetometer pertama yang dapat mengukur sudut inklinasi dan deklinasi secara tepat. Alat ini dibuat oleh Thalen. Lalu Adolf Schmidt pada tahun 1915 berhasil menciptakan magnetometer yang mampu mengukur medan magnet dengan akurat.

Setelah ditemukannya magnetometer, para ilmuan mulai mengembangkan berbagai jenisnya. Magnetometer jenis fluxgate, ditemukan oleh Victor Vacquier. Magnetometer jenis ini digunakan dengan diletakkan di pesawat untuk mendeteksi kapal selam selama perang dunia ke-II. Sementara magnetometer jenis Proton baru dikembangkan pada tahun 1950. Dan magnetometer jenis gradiometer telah digunakan pada survei di udara pada akhir 1960. Setelah survei di darat dengan gradiometer telah dikembangkan pada tahun-tahun sebelumnya.

1 komentar:

Tinggalkan Komentar